Kebiasaan menabung untuk persediaan dan kebutuhan hal-hal yang tidak terduga  membuat Matilda Evi, anggota CU Pancur Kasih TP. Ledo, merasakan manfaatnya yang luar biasa. Dari kebiasaannya itulah, ia mulai bisa bangkit membantu suaminya untuk membangun usaha bengkel yang berhasil hingga saat ini. “Bengkel Motor Amboyo, Samu Adup” milik ia dan suaminya, Ropulus  Norman, semakin berkembang dari hari kehari.

Sebelum berhasil seperti sekarang, pengalaman pahit pernah dialami oleh mereka. Keterpurukan yang dialami mereka saat mengalami musibah kebakaran yang terjadi sekitar tahun 2012. Musibah kebakaran tersebut sama sekali tidak menyisakan barang-barang yang berharga, yang tertinggal hanya kompresor dan beberapa unit motor.

Akibat kebakaran yang dialami, putus asa dan kecewa dialami oleh suaminya Ropulus. Namun, berkat sudah bergabung bersama CU Pancur Kasih dan telah menabung tanpa sepengetahuan suaminya, Evi mendapatkan santunan kebakaran sebesar Rp. 600.000 dari CU Pancur Kasih. Dengan modal yang seadanya tersebut mereka membelikan modal “Kunci Pas bengkel” sebagai alat dasar dasar membuka bengkel. .

Sejak saat itulah, mereka kemudian segera bangkit dengan berbekal pengalaman bekerja sebagai montir di Pontianak dan bisa melihat peluang, kerja keras dan tekun dalam berusaha, bengkel satu-satunya milik suku pribumi ini,  semakin dapat berkembang dengan pesat.

“Kalau tidak ber- CU, semenjak habis kebakaran, mungkin tidak akan seperti sekarang”, kata Ropulus saat menceritakan perkembangan bengkelnya.   “Selain itu kami juga telah mempercayakan petugas CU untuk membantu kami dalam melakukan transaksi seperti mengangsura jumlah kewajiban dan menabungkan uang yang ada di tabungan kami. Semuanya terasa semakin mudah bagi kami. Untuk pembagian jumlah setoran, kami semuanya percayakan dengan petugas CU, karena CU sudah dipercaya”.

Bengkel Amboyo miliknya setiap hari didatangi pelanggan dari berbagai kalangan masyarakat dan dari mana pun. Bengkel yang selalu ramai ini memiliki karyawan 2 orang untuk membantu dalam melayani pelanggan dengan baik. Pendapatan perbulan yang dihasilkan dari bengkel motor inilah yang digunakan untuk menghidupi keluarga, membayar kewajiban, menabung dan menggaji karyawannya. Selain itu, Evi juga sedang membangun cafe sebagai tempat menunggu sementara pelanggan motor saat motornya sedang diperbaiki.

Jatuh bangun yang dihadapi pasangan suami istri, Matilda Evi dan Ropulus Norman, semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua terutama anggota CU Pancur Kasih dan masyarakat luas lainnya yang belum mengetahui dengan managemen CU Pancur Kasih.

Barage CU Malangkah Repo!

error: Content is protected !!